Kemudian pada tahun 1909, Inggris dan Siam membuat pemufakatan yang di kenal dengan perjanjian Bangkok untuk memisahkan Pattani dari negeri Semenanjung Melayu. Inggris mengambil Kelantan, Kedah, Perlis dan Terengganu dan dijadikan sebagai negeri naungannya. Sedangkan Siam mengambil Pattani, Yala, Narathiwat dan setun. Dan pembagian tersebut kekal hingga hari ini.
Ketika Inggris dan Siam membuat perjanjian Bangkok dengan membagi wilayah melayu, mereka tidak pernah melibatkan Raja-raja Melayu maupun penduduk setempat. Orang melayu Kelantan tetangga terdekat Pattani-bernasib baik dengan mendapat "Ibu" Inggris karena ia tidak campur tangan dalam urusan rumah tangga kelantan. Sedangkan Pattani mendapatkan "Ibu" yang buruk, karena Siam menginginkan Melayu-Pattani menjadi sama dengan mereka.
"Kalau bisa, semua warga melayu harus masuk agama Budha dan mengikuti kebudayaan Siam dan tak boleh berbicara Melayu. Inilah nasib Melayu-Pattani yang ber-ibu-kan Siam. Berbeda dengan melayu Kelantan yang ber-ibu-kan Inggris . Inggris tidak pernah menganggu urusan kebudayaan dan keagamaan melayu Kelantan selama mereka tidak berontak dan berbuat macam-macam," Papar Nik Anuar.
Maka para pemimpin pejuang Pattani terus berjuang membebaskan diri dari cengkeraman Siam. Kedua tuntutan orang melayu Pattani kepada PBB (perserikatan Bangsa-bangsa) agar membuat referendum di Thailand selalu di tolak. inilah akar masalah yang jarang di perdebatkan oleh para pakar dan akedemisi.Kenapa Pattani menjadi wilayah Thailand padahal 90% warganya adalah bangsa Melayu yang beragama Islam . Sama dengan orang Melayu-Kelantan di semenanjung Malaysia. Kenapa mereka menjadi bagian Thailand dan bukan menjadi bagian Malaysia?
Ini merupakan kekhilafan sejarah dan masa lalu, kata Nik Anuar Nik Mahmud, dan harus dibetulkan. Kesilapan sejarah ini harus dibetulkan, jika ingin melihat kawasan tersebut aman dan damai . "Jadi saya meletakkan kesilapan sejarah ini pada tahun 1909. Ketika Inggris membagi wilayah-wilayah Melayu utara kepada Siam," tegas sejarawan yang juga profesor dan penyelidik utama di UKM ini. Sejak itu pula kerajaan Siam berganti nama menjadi kerajaan Thailand setelah digabungkannya Pattani.
Hal ini pula yang di tegaskan oleh Muhammad Abdur Rahman Abdus Samad, tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua Majelis Agama Islam Narathiwat . "Kita ini berbeda dengan orang Siam. Orang Pattani tidak bisa berbahasa Siam. demikian pula orang Siam tak bisa berbahasa Melayu. Antara dua suku bangsa ini terjadi perbedaan yang cukup tajam. Orang Siam tak percaya pada orang Melayu. Orang Melayu juga tak percaya dengan orang Siam,"Kata Baba Man, panggilan akrab Abdur Rahman

Hingga hari ini lanjut Baba Man, warga muslim Melayu masih sulit menerima penyatuan Pattani dengan Siam."Sulit akan bersatu dengan orang yang berbeda dengan kita. Kalau anda bertanya orang sini, akan pilih bergabung dengan Malaysia atau Thailand? Mayoritas akan menjawab memilih Malaysia. Karena secara historis, bahasa, bangsa dan agama sama," tandasnya
bersambung ke tulisan ke-3 (sabili No.8 thn.XVI Nov 2008)





0 Komentar: